Fakta Menarik Tentang Serangga Musim Panas

Tonggeret merupakan salah satu serangga yang menjadi indikator kestabilan ekosistem pedesaan. Diapnggil begini karena suaranya yang lebih menyerupai sayatan-sayatan kepiluan. Saat ini di desa-desa sekitar kota Yogyakarta serangga ini sudah sulit diketemukan karena rusaknya habitat tempat tinggal mereka. Berbagai jenis obat pebasmi serangga dan juga penebangan pohon-pohon perindang di sawah, ladang maupun sekitar pekarangan rumah masyarakat pedesaan diduga ikut andil menyempurnakan kemusnahan serangga ini.

Tonggeret adalah sebutan untuk segala jenis serangga https://phl-parking.com/situs-judi-slot-online-bonus-new-member-200% dari ordo Hemiptera, subordo Cicadomorpha. Serangga ini mulai bisa terbang setelah berusia 17 tahun lebih 3 hari. Setelah selama tepat 17 (tujuh belas) tahun mereka hidup sebagai larva di dalam tanah. Kinjeng tangis menghabiskan waktunya selama 17 (tujuh belas tahun) di dalam tanah dengan tetap mengandalkan lemak-lemak dan protein di dalam tubuhnya. Hanya dalam waktu 3 (tiga) hari setelah mereka keluar dari tanah, mereka berubah menjadi serangga sempurna dengan bulu-bulu yang kokoh.

Menandai Bau Getah
Secara naluri serangga baru ini akan memperjuangkan kelangsungan generasinya dengan kawin, bertelur, untuk penciptaan larva-larva baru. Larva baru akan juga survive selama 17 tahun di dalam tanah seperti generasi sebelumnya.

Menurut beberapa penelitian biologi yang telah dilakukan terhadap serangga ini, jangkrik pohon akan mampu menghitung tepat 17 tahun masa survivenya dengan menandai bau getah akar pohon di sekitarnya. Mereka sangat mampu membedakan usia pohon yang ditumpanginya. Ini juga sekaligus menjadi jawaban tentang kepunahan mereka, terlebih karena banyak pohon yang sudah ditebang sebelum masa usia larva.

Saat serangga ini mencapai tahap dewasa, keluar dari bawah permukaan tanah untuk melakukan ritual musim kawin. Seusai kawin, betina meletakkan telur di tanah, serangga ini mati. Tonggeret kadang-kadang dikira belalang atau lalat besar, meskipun mereka tidak mempunyai pertalian keluarga yang dekat. Tonggeret mempunyai hubungan dekat secara taksonomi dengan wereng dan spittlebugs.

Taksonomi
Di dunia ada sekitar 3.000 spesies tonggeret, meskipun banyak yang belum dideskripsikan. Tonggeret dikelompokkan dalam dua familia: Tettigarctidae (di bahas di tempat lain) dan Cicadidae. Ada dua spesies Tettigarctidae yang telah punah, satu di Australia selatan, dan yang lainnya di Tasmania. Familia Cicadidae dibagi lebih jauh ke dalam subfamilia Tettigadinae, Cicadinae dan Cicadettinae. Mereka terdapat di semua benua kecuali Antarktika.

Corak Bulu dan Suara
Setelah menjadi serangga, Kineng Tangis atau Tonggeret yang bernama asli Cicada ini akan memiliki mata yang kecil dan jauh dari permukaan kepalanya, bulunya berwarna transparan dengan corak guratan khusus dan sedikit berbeda antara bulu tonggeret jantan dan betina. Corak bulu ini yang kemudian akan membedakan bunyi nyanyian mereka.

Ketika Tonggeret jantan “bernyanyi” bunyinya sangat khas dan keras. Baik tempo maupun volume bunyi yang dihasilkan Tonggeret jantan akan tergantung pada suhu udara di sekitarnya, semakin panas maka temponya semakin cepat serta volumenya juga semakin kencang. Frekuensi suara tonggeret ini memang sangat khas, sehingga pada saat tertentu bisa mencapai getaran frekuensi 125 desible (suara yang mampu di dengar oleh penderita tuli pada umumnya).

Suara tonggeret jantan terutama bertujuan untuk memancing perhatian tonggeret betina, dan mengusir tonggeret jantan lainnya. Bunyi yang dihasilkan tonggeret betina lebih menyerupai petikan jari tangan, namun itu cukup bagi Tonggeret jantan untuk mengikuti arah suaranya. Setelah masa ritual perkawinannya, tonggeret betina segera bertelur, dan meletakkan telur-telur mereka di bawah tanah, setelah itu mereka akan segera mati.